Gading Village, Madiun Regency has a tradition which is a relation between the beliefs of the Nahdlatul Ulama community and local culture, namely diba'an. Generally, diba'an is understood as a prayer activity accompanied by a sermon. Meanwhile, in Gading Village, the diba'an is carried out as a series of pre-wedding rituals because it is believed to be a prayer hoping for smoothness and harmony between two couples getting married. However, due to the COVID-19 pandemic, the implementation of the diba'an tradition has changed or even been stopped and caused conflict. The purpose of this study was to analyze the conflict by using the conflict theory of Karl Marx and descriptive qualitative methods sourced from primary and secondary data. The results of the study indicate that the conflict stems from the conflict between "priyayi" religious leaders and ordinary people who are subject to social distancing policies. Starting from religious leaders who devote themselves to the interests of the hereafter so as to position themselves to protect and defend the diba'an and prevent people from returning to old habits that glorify their ancestors compared to God in expecting a smooth wedding ceremony. In contrast to ordinary people who have their own views on traditional and worldly asceticism, namely prioritizing the safety of the world. So, there are two things that are caused by this conflict, namely the number of marriages has decreased and there are people who have re-adopted the old habit of making offerings at the village punden in pre-wedding rituals. (Desa Gading Kabupaten Madiun memiliki suatu tradisi yang merupakan relasi antara kepercayaan masyarakat Nahdlatul Ulama dan budaya lokal yaitu diba’an. Umumnya, diba’an dipahami sebagai aktivitas bersholawat disertai khotbah. Sedangkan, di Desa Gading diba’an rutin dilaksanakan sebagai serangkaian ritual pra-pernikahan karena diyakini sebagai doa mengharapkan kelancaran dan keharmonisan antara dua pasangan yang akan menikah. Akan tetapi, karena pandemi covid-19 pelaksanaan tradisi diba’an mengalami perubahan atau bahkan dihentikan dan menyebabkan konflik. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis konflik tersebut menggunakan teori konflik Karl Marx dan metode kualitatif deskriptif yang bersumber pada data primer dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik berasal dari pertentangan antara tokoh agama “priyayi” dengan masyarakat biasa yang memilih tunduk terhadap kebijakan social distancing. Diawali dari kelompok tokoh agama yang mengabdikan dirinya pada kepentingan akhirat sehingga menempatkan diri mereka untuk menjaga dan mempertahankan diba’an serta mencegah masyarakat kembali pada kebiasaan lama yang mengagungkan leluhur dibandingkan Tuhan YME dalam mengharapkan kelancaran acara pernikahan. Berbeda dengan masyarakat biasa yang memiliki pandangan tersendiri pada askestisme tradisional dan keduniawiannya yaitu mengutamakan keselamatan dunia. Maka, ada dua hal yang diakibatkan oleh konflik ini yaitu angka pernikahan turun dan terdapat masyarakat yang kembali mengadopsi kebiasaan lama dengan membuat sesajen di punden desa dalam ritual pra-pernikahan.)
Copyrights © 2022