Sebagai modal sosial, Tri Hita Karana masih relevan sebagai sarana penilai sekaligus sebagai sarana penghukum yang kompatibel bagi Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Bali. Dikatakan demikian karena Tri Hita Karana bersifat laten yang dibungkus oleh budaya dalam menggerakkan sumber daya ekonomi. Pendekatan kajian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang dipadukan dengan pendekatan kuantitatif. Kajian bertujuan untuk mengetahui dan memahami bagaimana implementasi Tri Hita Karana dalam pembangunan di Desa Penglatan Kabupaten Buleleng Bali. Hasil menunjukkan bahwa Tri Hita Karana sebagai modal sosial sangat mengakar dalam menggerakkan aktivitas warga desa. Sisi lain, rata-rata 20% keuntungan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) per tahunnya diperuntukkan bagi pembangunan desa. Bentuknya beragam seperti pembangunan Balai Desa, perbaikan tempat ibadah bagi umat Hindu di mana Lembaga Perkreditan Desa (LPD) itu bermukim. Dengan kata lain Tri Hita Karana sebagai institusi sosial sanggup meningkatkan kemakmuran desa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebermanfaatan bersama secara ekonomi dengan cara menjaga hubungan antara manusia, lingkungan dan Tuhan secara harmoni.
Copyrights © 2024