Ibu kota baru (IKN) Indonesia direncanakan akan dipindah ke kawasan tak terbangun di Kalimantan Timur. Terdiri dari tiga wilayah fungsi yang berbeda, Kawasan Inti Pusat Pemerintah (KIPP) akan dikembangkan menjadi tiga tahap, termasuk sistem drainasenya. Sistem drainase merupakan bagian penting dalam pembangunan ibu kota baru, karena dapat meningkatkan limpasan secara signifikan. Kajian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan Water Sensitive Urban Drainage (WSUD), khususnya Low Impact Development (LID), untuk mengatasi peningkatan limpasan di ibu kota baru Indonesia. LID yang dipilih adalah Green Roof dan Rainwater Harvesting berdasarkan kelayakannya. Hidrograf limpasan dievaluasi menggunakan curah hujan dengan periode ulang 10 tahun untuk skenario yang berbeda. Skenario 1, 2 dan 3 menerapkan Green Roof masing-masing 50%, 75%, dan 100% dari luas bangunan, sedangkan skenario 4 dan 5 memanfaatkan Rainwater Harvesting dengan menggunakan rasio volume tampungan terhadap luas wilayah, yaitu 54 m3 dan 12 m3 untuk setiap 200 m2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limpasan dengan menggunakan 100% Green Roof pada kawasan terbangun mengikuti kondisi alami, namun menempati luas yang sangat besar. Kondisi yang sama juga berlaku untuk Rainwater Harvesting untuk Skenario 4. Oleh karena itu, Skenario 5 merupakan skenario yang paling optimal di antara skenario lainnya, mengingat kemampuannya untuk mereduksi hidrograf limpasan mendekati kondisi alami dan kelayakannya untuk diterapkan.
Copyrights © 2024