This article intends to examine the relationship between Islam and adat in the Bugis traditional wedding procession using symbolic interactionism analysis. The procession of the Bugis traditional wedding tradition is divided into several parts, namely mappese-pese or mabbaja laleng which is interpreted as a process to find out whether the couple to be married has a fiance or not, this is intended as a form of caution not to propose to a woman who has been proposed by other people. Madduta is done as a form of appreciation or love among humans. Mappettu ada is meant to reinforce the outcome of the conversation and is intended to elevate the position of women in the procession. Mappacci is meant to carry out the self-cleaning process by using several traditional instruments and using the Koran and praise to the Prophet in the form of reading barazanji as its main foundation and giving leko' is meant as a form of husband's responsibility in providing for his wife. This gives legitimacy that Islam and customs in the tradition of Bugis marriage harmonize a form of acceptance of the Bugis community with Islamic values described in the traditions being carried out. [Artikel ini dimaksudkan untuk menelaah relasi Islam dan adat dalam prosesi adat pernikahan masyarakat Bugis dengan menggunakan analisis interaksionisme simbolik. Prosesi adat tradisi pernikahan suku Bugis dibagi menjadi beberapa bagian yaitu mappese-pese atau mabbaja laleng yang dimaknai dengan proses untuk mengetahui apakah pasangan yang akan dinikahi tersebut telah memiliki tunangan atau belum, hal ini dimaksudkan sebagai bentuk kehati-hatian untuk tidak melamar wanita yang telah dilamar oleh orang lain. Madduta dilakukan sebagai bentuk penghargaan atau cinta kasih sesama manusia. Mappettu ada dimaksudkan untuk memperteguh hasil pembicaraan dan dimaksudkan untuk meninggikan derajat perempuan di dalam prosesi tersebut. Mappacci dimaksudkan untuk melakukan proses pembersihan diri dengan menggunakan beberapa instrument adat serta menggunakan al-Qur’an dan pujian kepada Nabi dalam bentuk pembacaan barazanji sebagai pondasi utamanya dan pemberian leko’ dimaksudkan sebagai bentuk tanggung jawab suami dalam menafkahi istrinya. Hal tersebut memberikan legitimasi bahwa Islam dan adat dalam tradisi perkawinan suku Bugis berjalan beriringan atau bentuk penerimaan masyarakat Bugis dengan nilai-nilai Islam dijabarkan dalam tradisi-tradisi yang dijalankan.]
Copyrights © 2020