Child maltreatment merupakan berbagai bentuk kekerasan oleh orang tua terhadap anak mereka terlebih yang berada pada usia di bawah 18 tahun, tindakan tersebut terdiri dari kekerasan secara fisik maupun emosional, kekerasan seksual, serta penelantaran secara fisik maupun penelantaran secara emosional. Tindakan maltreatment yang diberikan oleh orang tua ketika masa kecil menyebabkan terbentuknya gambaran konsep diri pada individu. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran konsep diri pada emerging adulthood yang pernah mengalami child maltreatment. Konsep diri terbagi menjadi dua yaitu konsep diri positif dan negatif yang dapat dilihat melalui sudut pandang fisik, psikis, sosial, dan moral. Ketika individu memiliki konsep diri yang positif, ia akan selalu memiliki pandangan optimis terhadap kehidupan. Sebaliknya apabila individu memiliki konsep diri negatif dirinya akan cenderung memiliki pandangan yang pesimis. Metode kualitatif dipilih untuk menjelaskan fenomena secara lebih mendalam, yaitu wawancara kepada tiga perempuan emerging adulthood yang pernah mengalami child maltreatment. Peneliti mendapatkan informan dengan menyebar pertanyaan terbuka di sosial media. Teknik analisis data yang digunakan adalah secara deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan child maltreatment yang dilakukan oleh orang tua dapat menghasilkan konsep diri yang berbeda-beda, yaitu positif dan negatif. Terdapat tindakan child maltreatment yang membentuk konsep diri positif pada salah satu informan penelitian, meskipun kedua informan lainnya mendapatkan tindakan yang serupa. Saran penelitian ini ditujukan bagi informan penelitian, orang tua, lembaga ranah anak, dan juga bagi penelitian selanjutnya.
Copyrights © 2024