Tujuan didirikanya sebuah entitas adalah untuk long live dan sustain, sememntara dalam perspektif manajemen keuangan adalah untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Dengan kata lain tidak satu perusahaan yang menginginkan usahannya bangkrut, maka dari pada itu segala kemungkinan yang dapat menghambat akan tercapainya tujuan tersebut harus diminimalisir sejak dini terkhusus dalam memprediksi kemungkinan terjadinya kebangkrutan melalui indikator financial distress. Analisis financial distress sangat penting dilakukan sebagai antisipasi bagi manajemen dalam memperbaiki kinerjanya agar kebangkrutan dapat dihindari sedini mungkin, sehingga menjadi penting bagi perusahaan untuk faktor - faktor yang dapat mempengaruhinya. Secara konseptual analisis financial distress dapat diukur dengan kinerja keuangan diantaranya melalui rasio keuangan seperti Current Ratio, Total Assets Turnover, dan Debt to Assets Ratio. Namun pada survei awal ditemukan empirical gap pada PT Adi Sarana Tbk serta adanya beberapa research gap tentang variabel terkait terhadap financial distress yang menyebakna penelitian ini dilaksanan. Perbedaan penelitian ini dengan sebelumnya terletak pada jumlah periode penelitian yang lebih panjang yaitu 7 tahun sehingga diharapkan hasilnya lebih representatif. Dengan populasi 36 perusahaan, diperoleh sampel secara purposive sebanyak 10 perusahaan. Berdasarkan Robust Least Square Analysist dihasilkan bahwa secara simultan dan parsial Current Ratio, Total Assets Turnover, dan Debt to Assets Ratio berpengaruh signifikan terhadap financial distress, sehingga ketiga variabel tersebut dapat digunakan untuk mengukur financial distress perusahaan transportasi yang terdaftar di BEI.
Copyrights © 2024