Menstruasi merupakan awal pertanda wanita memasuki usia pubertas, ketika telah mengalami menstruasi seringkali terjadi gangguan atau sering disebut Premenstrual syndrome (PMS). yang terjadi sebelum menstruasi, Premenstrual Syndrome (PMS) dimulai dari 10-7 hari sebelum menstruasi dan akan menghilang ketika menstruasi. Meski faktor pasti yang mempengaruhi Premenstrual syndrome (PMS) belum diketahui, namun ada beberapa faktor yang diduga berhubungan dengan frekuensi Premenstrual syndrome (PMS) diantaranya faktor status gizi, aktivitas fisik, dan faktor stress dan faktor hormonal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara tingkat aktivitas fisik dan tingkat stress dengan kejadian Premenstrual syndrome (PMS). Artikel dibuat dengan menggunakan metode literature review dengan teknik seleksi kemudian dilakukan evaluasi pada masing-masing artikel. Pencarian artikel menggunakan Garuda, google scholar, dan Semantic scholar. Pencarian artikel menggunakan kata kunci “Premenstrual Syndrome”, “Tingkat Aktivitas Fisik”, dan “Tingkat Stress”. Dari keseluruhan artikel terdapat 4 artikel yang menyatakan bahwa tingkat ativitas fisik memiliki hubungan yang signifikan dengan terjadinya premenstrual syndrome (PMS). Dan dari kelima artikel tersebut menyebutkan bahwa tingkat stress berhubungan dengan premenstrual syndrome (PMS). Tingkat aktivitas fisik dan tingkat stress merupakan faktor yang berhubungan premenstrual syndrome (PMS). Kurang aktivitas fisik dapat menurunkan kadar hormon endorphin yang berperan dalam meningkatkan hormon estrogen selama menstruasi terjadi, hal tersebut mengakibatkan gejala premenstrual syndrome (PMS) terasa lebih berat ketika tubuh kurang bergerak. Tingkat stress juga dapat terasa lebih berat ketika menstruasi dan dapat mempengaruhi premenstrual syndrome (PMS).
Copyrights © 2024