Berdasarkan peta batimetri di Selat Lombok, profil kedalaman di di bagian selatan Selat Lombok berubah secara drastisdari 400 m ke 2000 m membentuktebing bawah laut (submarine canyon).Dengan pengamatan lebih detil, ditemukan sebagian kecil dari tebing yang memiliki bekas gerusan berbentuk mahkota dengan tumpukan sedimen di bagian bawahnya. Fitur ini di interpretasikan sebagai endapan longsor bawah laut dan dapat ditemukan 24 km ke arah barat daya dari Pulau Nusa Penidaserta sekitar 30 km kearah Tenggara dari tengah Teluk Benoa. Gerusan terletak di sekitar kedalaman 950 m. Berdasarkan luas area gerusan, volume massa longsoran diperkirakan dan jumlahnya serupa dengan volume longsor Anak Krakatau yang menyebabkan tsunami di tahun 2018. Jika longsoran di Selat Lombok ini juga mampu membangkitkan tsunami, wilayah selatan Pulau Bali dan Pulau Nusa Penida memiliki kemungkinan terdampak tsunami paling tinggi. Pada penelitian ini, digunakan COMCOT –sebuah model numerik tsunami yang menggunakan persamaan perairan dangkal linier dan non-linier untuk melihat karakteristik gelombang tsunami dengan pembangkit longosor yang berpotensi menerjang wilayah selatan Pulau Bali dan Pulau Nusa Penida Kata kunci: Longsor bawah laut, model tsunami, Selat Lombok.
Copyrights © 2022