Latar belakang: Sesuai seruan World Health Organization (WHO) bahwa tidak seorangpun boleh mendapatkan bahaya ketika sedang menjalani pelayanan di fasilitas kesehatan. Melalui berbagai upaya RS Paru Bogor menunjukkan tekadnya untuk memberikan pelayanan berorientasi pada keselamatan pasien, tetapi dalam tiga tahun terakhir terdapat 25 laporan insiden keselamatan pasien. Oleh karena itu dilakukan pengukuran Implementasi Budaya Keselamatan Pasien (BKP). Tujuan: Mendapatkan gambaran implementasi BKP di RS Paru Bogor. Metode: Penelitian kuantitatif observasional desain cross sectional, data merupakan hasil survei Komite Mutu RS, jumlah sampel 222. BKP diukur menggunakan instrumen Hospital Survey on Patient Safety Culture (HSOPSC). Analisis univariat persentase respon positif dan rata-rata nilai, bivariat dengan uji T-independen. Hasil: Persentase respon positif BKP 76,8%, dengan rincian kerja tim (96,4%), pembelajaran organisasi perbaikan berkelanjutan (85,4%), komunikasi tentang kesalahan (84,4%), serah terima dan pertukaran informasi-informasi (83,9%), dukungan supervisor/ manajer/ pimpinan klinis untuk keselamatan pasien (83,6%), respon terhadap kesalahan (75,1%), keterbukaan komunikasi (74,4%), dukungan manajemen RS untuk keselamatan pasien (71,2%), pelaporan insiden keselamatan pasien (61%), dan staffing-kecepatan kerja (52,1%). Hasil uji T-independen terdapat perbedaan rata-rata skor dukungan supervisor/ manajer/ pimpinan klinis untuk keselamatan pasien pada lama kerja di unit (P value 0,02), terdapat perbedaan rata-rata skor dukungan manajemen rumah sakit untuk keselamatan pasien pada staf pelayanan kontak langsung dan tidak kontak langsung dengan pasien (P value 0,03), terdapat perbedaan rata-rata skor dukungan manajemen rumah sakit untuk keselamatan pasien pada jam kerja per minggu (P value 0,01). Kesimpulan: Implementasi BKP di RS Paru Bogor pada level kuat, performa tinggi, proaktif, memiliki komitmen, keselamatan pasien diprioritaskan dibandingkan produktivitas.
Copyrights © 2024