Penelitian ini akan membahas fenomena kebahasaan di dalam kisah Nabi Isa dan Bani Israel. Nabi Isa tidak memanggil kaumnya dengan panggilan “Kaumku” sebagaimana yang dilakukan Nabi Musa ketika memanggil Bani Israel. Penelitian ini merupakan library research dengan metode deskriptif-analisis menggunakan dua sudut pandang, yakni pemilihan redaksi atau diksi dengan menekankan unsur-unsur sintaksis dan psikologi sastra. Analisis sintaksis digunakan untuk mengupas alasan penggunaan redaksi “Wahai Bani Israel” yang selalu digunakan Nabi Isa untuk memanggil kaumnya. Sementara psikologi sastra digunakan untuk mengetahui kondisi psikologi Nabi Isa dan Bani Israel dalam proses interaksi sosial. Hasil penelitian adalah pertama Nabi Isa memanggil kaumnya dengan sebutan “Bani Israel” bukan panggilan akrab seperti “Kaumku.” Panggilan Bani Israel digunakan Al-Qur’an untuk menegaskan bahwa Nabi Isa tidak memiliki kedekatan nasab dengan kaumnya karena nasab Nabi Isa disandarkan kepada ibunya. Hal ini sangat berbeda dengan tradisi masyarakat Arab yang menyandarkan nasab kepada ayah. Kedua, Surah al-Ma’idah ayat 72 dan As-Saff ayat 6 merupakan contoh interaksi sosial yang dibangun Nabi Isa dengan cara berdakwah. Interaksi Nabi Isa dan Bani Israel sebenarnya telah dimulai sejak masa kecil Nabi Isa yaitu ketika Bani Israel memberikan penolakan pertama kalinya untuk Maryam dan Isa. Sebagai manusia, Nabi Isa tetap merasakan berbagai emosi, seperti kebahagiaan dan ketenangan, kesedihan, serta ketakutan. Kata kunci: Nabi Isa, Bani Israel, Sintaksis, Psikologi sastra
Copyrights © 2024