Kurang gizi dan stunting terkait erat, dengan stunting pada anak disebabkan oleh defisiensi nutrisi selama seribu hari pertama kehidupan. Dampaknya meliputi gangguan perkembangan fisik yang irreversible, menurunkan kemampuan kognitif dan motorik, serta berdampak negatif pada performa kerja di masa dewasa. Anak stunting memiliki IQ rata-rata sebelas poin lebih rendah dari anak normal. Gangguan tumbuh kembang ini, jika tidak diintervensi sejak dini, dapat berlanjut hingga dewasa. Prevalensi stunting di Indonesia peringkat kelima terbesar di dunia, dengan data Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi nasional mencapai 37,2 persen, terdiri dari pendek sebesar 18,0 persen dan sangat pendek sebesar 19,2 persen. Masyarakat Padukuhan Pucunggrowong, dengan kesadaran akan pengolahan limbah organik, memudahkan sosialisasi stunting dan meningkatkan ekonomi. Melalui metode kualitatif seperti observasi, wawancara, dan sosialisasi, masyarakat setempat dapat berpotensi mencegah stunting. Kesimpulan yang didapatkan dari kegiatan ini adalah bahwa masyarakat di Padukuhan Pucunggrowong memiliki potensi yang cukup besar untuk melakukan pencegahan stunting karena profesi masyarakat setempat banyak yang berkaitan dengan buah dan sayur yang menyebabkan banyaknya penggunaan buah dan sayur dalam kehidupan sehari-hari mereka. Maka dari itu, diharapkan pencegahan stunting ini akan terus dibudidayakan oleh masyarakat setempat supaya dapat menurunkan jumlah angka stunting di Padukuhan Pucunggrowong.
Copyrights © 2023