Tujuan dalam penulisan ini membahas tentang bagaimana proses komunikasi antarpribadi didalam perspektif secara Islam, sebagaimana pula tercantum dalam Al-qur’an surat al-Nahl ayat 125, yaitu dengan cara hikmah, mau‘idzat hasanah, mujādalah billatī hiya ahsan. Dari beberapa pendapat ahli diketahui bahwa komunikasi antarpribadi biasanya hanya dilakukan secara tatap muka (face to face) sehingga terjadilah kontak pribadi (personal contact). Dengan demikian, interaksi timbal balik langsung terjadi diantara keduanya. Dalam hal ini seorang komunikator juga dapat mengetahui maksud dan tujuan yang hendak disampaikan oleh komunikan. Hal ini dapat diketahui dengan melihat dari ekspresi mimik wajah komunikan ketika sedang menyampaikan sebuah informasi. Dan akan menimbulkan respon yang berbeda pula,Baik tanggapan positif maupun tanggapan negative. Ditinjau dari teori-teori komunikasi antarpribadi dalam perspektif komunikasi Islam, pembahasan ini lebih berfokus kepada proses penyampaian pesan atau informasi dari komunikator kepada komunikan, dengan memperhatikan penggunaan kaedah yang sesuai dengan prinsip komunikasi yang berdasarkan kepada Alquran dan Hadis.Dalam Proses penyampaian informasi kepada audien baik secara langsung maupun melalui media sangatlah menjunjung tinggi kebenaran yang diajarkan oleh agama islam. Dalam proses ini umpan balik (feedback) dalam komunikasi Islam bukan kepada komunikatornya, tetapi kepada mad‘ū, berbeda dengan komunikasi umum yang lebih mengutamakan kepentingan politik dan material namun juga mementingkan aspek sikap dan yang akan diambil dalam proses penyamapaian tersebut sehingga Komunikasi antarpribadi dalam persfektif Islam mampu dikatakan sebagai dakwah fardiyah. Dalam hal penyampaiannya sangat diperlukan adanya pengetahuan dalam komunikasi dan kebijaksanaan seorang dai. Yang mana diharapakan Seorang dai tersebut mampu menjadi seseorang yang bijaksana dalam mengambil sebuah keputusan maupun memberikan informasi yang mampu menumbuhkan kepercayaan dlam situasi dan kondisi dalam kehidupan bermasyarakat. Seorang Dai mengajak mereka haruslah berdasarkan kemampuan akal, penguasaan pemahaman,pemahaman keilmuan serta penyesuaian terhadap tingkat sosial masyarakat.
Copyrights © 2023