Gejala PPOK seperti batuk dan sesak napas dapat menyebabkan kerja otot-otot pernapasan mengalami perubahan patologis pada sistem pernapasan dan berpengaruh pada kelemahan otot skeletal, sehingga penderita mengalami penurunan ekspansi thorax. Kekakuan, kelelahan serta kelemahan otot yang progresif dapat mempengaruhi besar kecilnya ekspansi thorax. Pemberian latihan pernapasan berupa buteyko breathing dan terapi fisik dada dengan chest mobilization merupakan upaya untuk mengaktivasi otot diafragma dalam meningkatkan kekuatan otot-otot pernapasan dan optimalisasi gerakan pernapasan pada ekspansi thorax pasien penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan pengaruh buteyko breathing dan chest mobilization terhadap peningkatan ekspansi thorax pada pasien PPOK. Metode penelitian menggunakan metode quasi eksperimental dengan pre and post test two group design. Kelompok I diberikan buteyko breathing dilakukan 3 kali seminggu selama 2 minggu. Sedangkan kelompok II diberikan chest mobilization dilakukan 2 kali seminggu selama 4 minggu. Hasil independent sample t-test menunjukan nilai (p > 0,05) pada titik axilla, nilai (p > 0,05) pada titik intercostae 4-5, dan nilai (p > 0,05) pada titik procecus xypoideus. Maka dapat disimpulkan tidak ada perbedaan pengaruh buteyko breathing dan chest mobilization terhadap peningkatan ekspansi thorax pada pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Saran bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk dapat meneliti faktor resiko PPOK dari lingkungan dan olahraga.
Copyrights © 2024