Mahasiswa sebagai individu dewasa perlu membangun hubungan intim sebagai orang dewasa yang menjalani periode penting kehidupan. Dalam prosesnya, mahasiswa bisa saja terlibat pada toxic relationship. Regulasi emosi menjadi penting dimiliki mahasiswa agar mampu mengelola emosi secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap aspek dan faktor regulasi emosi pada mahasiswa usia muda yang pernah terlibat toxic relationship. Ini adalah penelitian kualitatif dengan metode studi kasus, menggunakan informan sebanyak 3 orang korban. Penelitian ini mengungkap fenomen berdasarkan teori Gross, (2014) dan Gross & Thomson, (2007). Data dikumpulkan dengan metode observasi, wawancara dan observasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan ketiga informan menunjukkan cara meregulasi emosi yang beragam.Saat terlibat pertengkaran, informan AF, RN dan YH cenderung diam dan menjauhi pasangan untuk sementara waktu agar dapat menata ulang pikiran dan mental. Informan AF membutuhkan penghargaan pasangan sehingga mendorong adanya dialog dan bercakap-cakap untuk menyelesaikan masalah. Informan RN cenderung menekan emosinya dan tidak memperpanjang masalah, karena hal tersebut diyakini sebagai proses pendewasaan, sehingga ia mengajak pasangan untuk saling instropeksi. Sementara informan YH, cenderung mengikuti kemauan pasangan, sehinggaa apapun kondisinya, ia mengalah demi tidak ditinggalkan pasangannya.
Copyrights © 2023