Pendokumentasian Cagar Budaya terdapat berbagai metode yang dapat dilakukan antara lain sketsa, hand survey, fotografi, audio visual, fotogametri, 3D laser scanner, SIG (Sistem Informasi Geografis) dan GPS (Global Positioning System). Salah satu metode dokumentasi yang bisa dilihat dan didengar adalah pendokumentasian audio visual. Salah satu bentuk pendokumentasian audio visual yang mampu memberikan penjelasan lebih dalam dan mudah dipahami oleh masyarakat adalah film dokumenter. Film dokumenter cagar budaya amatlah penting dalam upaya pelestarian Cagar Budaya. Informasi dan dokumentasi diperlukan sebagai sarana pengetahuan dan pemahaman tentang suatu arti dan nilai-nilai dari keberadaan suatu objek Cagar Budaya. Candi Borobudur merupakan salah satu Cagar Budaya yang memiliki nilai pesan moral yang tergambarkan dalam relief-relief candi. Jumlah keseluruhan relief terdapat 1.460 panil relief cerita yang tersusun dalam 11 deretan yang mengitari struktur candi, dan 1.212 panil relief dekoratif. Relief cerita di Candi Borobudur terbagi dalam beberapa bagian yaitu Relief Karmawibhangga, Relief Lalitavistara, Relief Jataka-Avadana, dan Relief Gandavyuha. Rumusan masalah dalam artikel ini adalah bagaimana perancangan film dokumenter dalam hal ini Relief Candi Borobudur yang diaktualiasikan dalam seni tari dan nilai-nilai apa saja yang mampu disajikan dalam film documenter. Dari hasil penelaahan menunjukkan bahwa perancangan film dokumenter Menarikan Borobudur telah berhasil dilaksanakan menggunakan model cyclic strategy dengan menggunakan tahapan produksi film yaitu pra produksi, produksi, pasca produksi dan pengujian. Film dokumenter Menarikan Borobudur memenuhi kriteria sebagai salah satu metode Pendokumentasian Cagar Budaya dimana mendokumentasikan relief Jataka-Avadana Candi Borobudur dan mampu menunjukkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya yaitu nilai edukatif, inspiratif, rekreatif, dan regenerasi.
Copyrights © 2023