Abstrak Potensi sagu di Kabupaten Merauke sangat besar apabila dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Papua. Sagu adalah tanaman dengan nilai sosial budaya dan ekonomi yang tinggi pada masyarakat Papua umumnya dan untuk kelompok etnis Marind pada khususnya. Sentra pengolahan Tambat di Kabupaten Merauke hanya ada di Kampung Tambat, dimana hasil pengolahan pati sagu ini hampir semuanya di jual untuk memenuhi kebutuhan pasar. Namun karena keterbatasan produksi maka belum memenuhi kebutuhan pasar, hal ini terlihat dari pati sagu yang dihasilkan selalu terjual habis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang usaha pengolahan sagu. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan dan wawancara.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua kelompok tani yaitu kelompok Marind dan Mandobo yang melakukan kegiatan pengembangan tanaman sagu dan pengolahan pati sagu. Teknologi pengolahan sagu masih dilakukan secara tradisional dengan tahapan : penebangan, pengupasan kulit, pemarutan dan proses ekstraksi. Pendapatan rata-rata pengolah sagu dalam satu kali proses pengolahan yang memerlukan waktu 3-4 hari untuk kelompok Marind Rp. 730.000 dan kelompok Mandobo Rp. 680.000. Pemasaran pati sagu masih terbatas untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal. Kata kunci : pengolahan pati sagu; kampung Tambat
Copyrights © 2020