Tulisan kuliner sudah banyak dilakukan oleh penulis-penulis sebelumnya namun, kebanyak fokus penelitian menggunakan persepektif ilmu yang berbeda yakni menggunakan (Antropologi kuliner) yang dilihat adalah aspek ekonomi, religi, lingkungan dengan mempengaruhi manusia dalam memilih, menyajikan dan memaknai sutau makanan. Serta teori Antropologi Kesehatan dan Materalisme kebudayaan untuk membedah permasalah kuliner di Toili Jaya. Antropologi kesehatan berdampak pada kebiasaan. Keberadaan babi guling dilihat dari kajian Antropologi kesehatan bahwa bumbu babi guling ternyata memiliki kasian kesehatan. Adapun bumbu bali yang sering digunakan untuk kesehatan antara lain jahe, kunyit, lengkuas dan sebagainya untuk antibodi tubuh manusia atau antioksida dan antiinflamasi karena bumbu daging babi guling yang berisi bumbu base genap. Lokasi penelitian ini dilakukan di Toili Jaya, Adapun teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi dengan analisis data Kualitatif, serta keabasahan data Triangulasi sumber, Triangulasi Teknik, Triangulasi Waktu. Hasil penelitian keberadaan kuliner orang bali tetap eksis di Toili Jaya karena pentingnya kuliner babi guling karena akar budaya, kedudukan babi guling, faktor ekonomi serta antropologi kesehatan, materalisme kebudayaan yang berdampak dalam mengembangkan babi guling tetap eksis dengan cara penyajiannya yang berdampak pada produk yang dihasilkan. Budaya orang Bali untuk mempertahankan dirinya dengan tetap ajeg terhadap menu-menu orang bali di tanah rantau baik mulai proses penyajian dalam upacara keagamaan, ritual dan proses persiapan melibatkan penggunaan bahan yang alami berkaitan dengan unsur rempah-rempah.
Copyrights © 2024