Kejadian stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih dihadapi oleh Anak balita dikatakan stunting apabila tinggi badan dan panjang tubuh anak balita dengan nilai z-scorenya kurang dari -2.00 standar deviasi (stunted) dan kurang - 3.00 standar deviasi (severely stunted) yang diketahui berdasarkan standar Multicentre Growth Reference Study oleh WHO. Prevalensi stunting di Indonesia berdasarkan hasil Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) yang diumumkan oleh Kementrian Kesehatan yaitu 24,4 % di tahun 2021 dan turun menjadi 21,6% di tahun 2022. Pada tahun 2021 prevalensi stunting di Kalimantan Tengah yaitu sebesar 27,4 %, dan pada tahun 2022 turun menjadi 26,9%. Angka tersebut masih jauh dari target yang telah ditetapkan oleh WHO yaitu kurang dari 20%. Negara berkembang termasuk Indonesia (UNICEF 2017). Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian stunting di Kalimantan tengah. Penelitian ini menggunakan metode literature review, meliputi studi pencarian sistematis data base komputerisasi Google Scholer 4 tahun terakhir dan ditemukan 6 artikel yang relevan. Hasil penelitian literature review ini menunjukkan kejadian stunting dapat dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor langsung dan tidak langsung. Faktor langsung penyebab stunting adalah riwayat pemberian ASI Eksklusif, asupan gizi mikro, dan sumber air minum sedangkan faktor tidak langsung kejadian stunting adalah pekerjaan ibu, pendidikan ibu, status ANC, dan pengetahuan orangtua. Dari hasil literature review diharapkan bagi ibu agar melakukan upaya pencegahan terjadinya stunting dengan mempersiapkan kehamilan dengan baik, kunjungan ANC yang rutin agar memiliki pengetahuan yang baik mengenai gizi pada 1000 hari pertama dan dapat menerapkannya. Selain itu, bagi bidan dan kader kesehatan diharapkan lebih aktif lagi dalam memberikan informasi mengenai pentingya asupan gizi pada balita.
Copyrights © 2023