Penciptaan alam semesta dalam al-Qur’an dilengkapi dengan hukum-hukum Allah (sunnatullah) yang tidak akan mengalami perubahan dan penyimpangan. Oleh karena itu setiap manusia yang melaksanakan anjuran al-Qur’an agar memahami alam semesta dengan cara mengamatinya dengan alat indera atau dengan peralatan observasi, akal dan wahyu maupun ilham sehingga menyadari bahwa dibalik karya besar yang maha luas ini ada dzat yang harus diyakini dan disembah yakni Allah swt. Berbagai teori tentang terbentuknya alam semesta pada dasarnya tidak bertentangan dengan al-Qur’an, namun hasil yang ditemukan dari observasi ilmuwan yang kealaman yang dibidangi sains dan teknologi lebih akurat dan lebih dapat diterima daripada hasil pemikiran-pemikiran yang lain yang bersifat spekulatif. Karena alam semesta termasuk masalah alam fisik tidak dapat dilakukan dengan berpikir spekulatif, sebab memang bukan bidangnya. Menempatkan porsi ilmu yang tidak sesuai dengan bidangnya akan melahirkan kerancuan dan kebenarannya akan diragukan. Alam tunduk mutlak pada hukum-hukum Allah swt. Semua alam yang berjalan sesuai dengan hukumnya menjadi subyek sekaligus obyek pendidikan dan pembelajaran. Al-Qur’an memandang pengamatan indera sebagai saluran utama dalam memahami alam semesta. Namun dalam ayat-ayat lain, ditegaskan pula bahwa saluran ini belumlah cukup dan dibutuhkan saluran lain, yakni penalaran atau akal. Berbagai strategi pembelajaran dapat digunakan untuk menyampaikan ayat al-Qur’an, sehingga dapat diterima dan dicerna oleh para peserta didik.
Copyrights © 2014