Perkembangan zaman akan terus maju, dan hal ini juga akan mempengaruhi budaya atau pun tradisi. Berbagai pandangan yang menjadikan pula keunikan, kekhasan, bahkan nilai dan makna dalam kebudayaan setiap daerah juga terancam mengalami suatu perubahan atau pergeseran makna. Tidak terlepas dari itu, yang seharusnya apa yang menjadi makna atau tujuan budaya tersebut hendaknya tetap dipertahankan. Berbicara soal kebudayaan atau konteks, maka bagaimana sebuah konteks itu akan dipandang dari suatu perspektif salah satu model kontekstual yaitu “Model Budaya Tandingan” yang akan melihat bagaimana tradisi Ma’pasilaga Tedong di Toraja yang memiliki perubahan makna akan dimurnikan melalui suatu perspektif Stephen Bevans dengan modelnya “budaya tandingan”. Ma’ pasilaga tedong diakui sebagai ungkapan penghiburan dan kesenangan dengan cara mengadu beberapa kerbau di upacara pemakaman (rambu solo’) pun juga sebagai salah satu adat budaya Toraja. Dengan tetap mempertahankan konteks dan juga memperhatikan kekeliruan yang terjadi dalam budaya Ma’pasilaga Tedong ini, serta memurnikan konteks tersebut. Selain itu, penerapan Injil untuk memperbaiki perubahan budaya pun perlu dilakukan agar pengembalian makna Ma’pasilaga Tedong menjadi tradisi sesuai dengan jati dirinya. Kata kunci: Ma’ Pasilaga Tedong, injil, model budaya tandingan, kebudayaan
Copyrights © 2024