Memang sudah menjadi kenyataan bahwa Bahasa itu berbeda-beda. Dalam perbedaan itu, seorang penutur sesuatu Bahasa menganggap Bahasa lainselain dari bahasanya sebagai Bahasa yang lucu. Seorang wartawan Mesir yang Bernama Anis Mansur, umpamanya, waktu berkunjung ke Indonesia pada tahun Enam puluhan, berkata bahwa Bahasa Indonesia itu lucu. Dia merasa heran dengan bentuk jamak dalam Bahasa Indonesia, yaitu dengan mengadakanpengulangan kata yang dijadikan jamak itu, seperti ‘ buku-buku’, ‘pelan-pelan’, dan lain sebagainya. Begitu pula seorang Amerika menganggap Bahasa Indonesia itu lucu. Dia merasa heran kenapa kalimat ‘’ How do you do” diterjemahkan dengan ‘’ apa kabar’’ padahal ‘’apa kabar’’ itu jika diterjemahkan kedalam Bahasa inggris secara harfiah akan menjadi ‘’what is the news” begitu pulah orang Indonesia merasa heran, seperti yang telah dikemukakan oleh Sdr Khazin Siraj pada waktu siding diskusi ilmiah IAIN Sunan Kalijaga tanggal 30 Juni 1978, kenapa susunan Bahasa arab begitu, seakan-akan tak enak didengar oleh telinga. Sdr. Tadi, sebagai contoh, mengutip al-Qur’an surat An Nisa’ ayat ke-134 yang menimbulkan keheranannya itu. Ayat itu berbunyi, ‘’yaa ayyuhal ladziina aamanuu billaahi war a suuli.’’ Artinya, ‘’Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.’’ Dia heran kenapa orang yang telah beriman kok masih disuruh beriman lagi.
Copyrights © 1982