Stroke merupakan suatu penyakit serebrovaskuler multifaktor yang seringkali menyebabkan kondisi epilepsi pasca serangannya. Kondisi ini memerlukan terapi utama dan pendukung yang tepat dalam jangka waktu yang lama, terutama pada pasien dengan komorbid penyakit kronis. Pada kasus ini, seorang pria 62 tahun dirujuk ke IGD dengan keluhan mati rasa anggota tubuh sebelah kanan, kesulitan berbicara dan sering mengalami kejang pasca serangan stroke 2 tahun yang lalu. Pasien memiliki riwayat hipertensi yang tidak terkontrol dan hiperkolesterolemia. Kasus ini dikaji dengan metode subjective, objective, assessment and plan (SOAP) terhadap semua terapi yang didapatkan pasien, lalu dibandingkan dengan referensi terkait. Berdasarkan hasil kajian, diperoleh kesimpulan bahwa penggunaan kombinasi antikonvulsi sebagai terapi utama sudah tepat dan sesuai, namun perlu adanya pengaturan kembali terkait regimen terapi penunjang pada pasien guna mengoptimalkan hasil terapi yang diharapkan, terutama untuk kondisi epilepsi pasca stroke beserta komorbidnya.
Copyrights © 2024