Studi tentang demokratisasi era Jokowi kebanyakan hanya terfokus pada persoalan kemunduran demokrasi. Sebaliknya, kajian yang mendikusikan ketahanan demokrasi Indonesia relatif masih terbatas dan kurang mendapatkan perhatian. Oleh karena itu, artikel ini bermaksud untuk mendiskusikan bagaimana ketahanan demokrasi di tengah arus regresi yang berlangsung di era Jokowi. Kami berargumen bahwa ada penurunan kualitas demokrasi, namun pada saat yang sama juga mampu bertahan mencegah terjadinya erosi demokrasi. Fenomena ini akan ditinjau ulang menggunakan teori institusionalisasi demokrasi David Beetham dan ketahanan demokrasi serta pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi kualitatif konvensional. Teknis pengumpulan data, peneliti mengadopsi studi kepustakaan dan dokumentasi. Dalam studi ini dapat disimpulkan gagalnya upaya meloloskan penambahan jabatan tiga periode menjadi fakta bahwa bekerjanya civil society untuk mempertahankan demokrasi, khususnya bentuk akuntabilitas vertikal dan diagonal. Masyarakat, pers, dan sebagian elit politik berperan sentral dengan bahu-membahu menolak wacana anomali tersebut, gerakan politik dalam bentuk ini dimaknai sebagai ketahanan demokrasi. Terpilihnya Ganjar Pranowo dalam nominasi juga berdampak dalam melemahkan gerakan penambahan periode jabatan tersebut. Sehingga dapat disimpulkan, meskipun demokrasi di Indonesia belakangan ini cukup merisaukan tetapi ada indikator kunci yang tetap membuat demokrasi tangguh.
Copyrights © 2024