Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan alasan di balik semakin kuatnya segregasi antara masyarakat di wilayah Mangga Dua (Kristen) dan Air Mata Cina (Islam) setelah konflik sektarian bernuansa agama di Ambon pada periode 1999-2004. Meski berdekatan secara geografis, wilayah Mangga Dua mayoritas dihuni oleh kelompok Kristen, sedangkan wilayah Air Mata Cina dihuni oleh mayoritas kelompok Islam. Secara historis, model segregasi pemukiman ini tampaknya merupakan produk dari upaya pengamanan selama era konflik di Ambon, yang bertujuan untuk meredam pertikaian antar-kelompok. Nmaun demikian, segregasi pemukiman antara kedua kelompok masih tetap terpelihara hingga kini meskipun konflik telah lama berlalu. Berdasarkan fakta tersebut, penelitian dalam artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan metode wawancara, observasi serta kajian pustaka. Lebih lanjut, analisis dalam artikel ini menggunakan landasan teori “modal sosial” oleh Robert Putnam yang menekankan pentingnya interaksi lintas kelompok dalam membangun solidaritas sosial. Berdasarkan temuan penelitian, penyebab utama segregasi antara kedua wilayah pemukiman tersebut antara lain: 1) trauma masa lalu yang memelihara ketakutan akan terjadinya konflik baru, dan 2) segregasi tempat tinggal dianggap sebagai langkah logis untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Hal tersebut kemudian berdampak kuat pada ketiadaan ruang untuk interaksi antara kedua kelompok, yang kemudian membentuk sebuah evolusi segregasi, dari yang semula hanya pemukiman menjadi segregasi sosial-budaya
Copyrights © 2024