ABSTRAK. Bentuk rumah beratap joglo pencu, bisa jadi meniru gaya bangunan joglo pendapa dan mungkin bangunan rumah beratap joglo milik para penguasa pribumi, bupati dan para pembantunya yang terlebih dulu ada. Dengan menampilkan bangunan monumental berupa pendapa dan rumah-rumah âbangsawanâ yang pada umumnya beratap joglo telah menjadikan kelompok orang-orang ini mempunyai kedudukan istimewa dimata masyarakat.  Rumah-rumah tinggal tradisional pada periode pertama, disamping sebagai generasi awal yang mungkin lebih banyak dibangun oleh orang-orang yang punya hubungan dengan para penguasa pribumi, juga dilain pihak telah menciptakan persaingan prestise bagi rumah-rumah tinggal tradisional yang muncul kemudian yang dibangun oleh para saudagar Muslim yang anggota keluarganya mungkin telah menjadi ulama-ulama muda modernis dan bagi mereka yang telah berhasil dalam sektor ekonominya. Adanya dinding tembok tinggi yang mengelilingi rumah mungkin merupakan salah satu cara pembeda antara kelompok Islam modernis di satu pihak dengan kelompok Islam penguasa dan Islam non modernis, serta kelompok yang melulu business oriented di pihak lain. Kelompok yang disebut terakhir mungkin bisa dilihat dari ekspresi rumahnya yang memiliki gebyok lengkung. Kata Kunci : rumah tradisional, kemakmuran, ukiran  ABSTRACT. House with âjoglo pencuâ roof, has been determined as an adopted style from âjoglo pendapaâ style or âjogloâ houses which belong to local government (bupati and their âabdi dalemâ). The style is presenting monumental building such as âpendapaâ as well as âbangsawanâ-nobleman houses which usually have a âjogloâ roof style. This style has shown a group of people who have power, high and special level within community. Traditional houses within first period, has been regarded as building which have special prestige for people who lived within it. Furthermore, traditional houses have been built by moeslem businessman who become modern young âulamaâ and succeed economically. High wall which surrounded houses, has been determined as a gap between modern islamic group and non modern islamic group as well as with business oriented group on the other part. The last group could be seen from houseâs expression which has âgebyok lengkungâ as a focal point of their house. Keywords: traditional house, prosperity, engraving.
Copyrights © 2010