Tradisi zikir fida>’ pada bulan Suro oleh masyarakat desa Wateskroyo bukan sekedar tradisi keagamaan semata. Akan tetapi itu merupakan salah satu bentuk wajah al-Qur’an dan Sunnah yang hidup di masyarakat akibat penafsiran dan reformulasi progresif terhadap al-Qur’an dan Sunnah. Permasalahan yang ingin dijawab dalam penelitian ini: pertama, bagaimana model variasi living Qur’an dan sunnah yang ada dalam tradisi zikir fida’ bulan Suro? Kedua, bagaimana kontruksi sosial pembacaan zikir fida’ bagi masayarakat desa Wateskroyo? Fenomena ini akan dianalisis menggunakan teori kontruksi social-nya Berger. Dalam pengumpulan data, penelitian ini menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Dari penelitian ditemukan enam ragam living Qur’an dan Sunnah dalam tradisi zikir fida>’ pada bulan Suro di desa Wateskroyo. Tradisi pembacaan zikir fida>’ terbentuk karena adanya tiga momen dialektik. Pertama, ekternalisasi, adanya budaya nahdliyin yang kental di masyarakat serta dogma dan ajaran tokoh agama yang membentuk. Kedua, Objektifasi. Rasa tenang dan harapan mendapatkan berkah serta mendapatkan ampunan serta tujuan dari zikir fida>’ sendiri merupakan daya tarik khusus yang bisa membuat tradisi tersebut masih tetap berlangsung. Ketiga, internalisasi. Masyarakat memiliki respon yang berbeda-beda terkait tradisi zikir fida>’ pada bulan Suro ini. Bagi yang menerima dan menjalankan tradisi ini juga mempunyai makna yang subjektif dan variatif. Ada yang memaknainya sebagai media untuk menarik masyarakat untuk memakmurkan masjid, media melatih masyarakat agar suka berzikir, momen silaturrahmi antar warga, melatih jiwa kedermawanan, momen mendekatkan diri kepada Allah Swt, perantara mendapatkan ampunan dan perantara untuk ketenangan hati.
Copyrights © 2024