The development of tourism villages in a sustainable manner is expected to be able to provide a domino effect in the form of increased income, improved environmental quality, which has an impact on improving the welfare of the community and still pay attention to socio-cultural aspects. However, in reality, tourism villages have not been able to have a significant impact on increasing the income of the village community; have not been able to improve the skills of villagers to manage their village attractions and have not been able to increase community participation optimally. Kertarahayu Village is one of the villages assisted by PT Cikarang Listrindo as a form of corporate social and environmental responsibility. This study aimed to obtain an empirical description of how PT Cikarang Listrindo provides assistance to the Kertarahayu village Pokdarwis in developing the Kertarahayu tourism village from the economic, social, environmental and partnership strengthening aspects. This research used a qualitative approach with descriptive analysis methods. Data collection techniques were carried out by in-depth interviews, observation and documentation studies. The results showed that: 1) the development of tourist villages from the economic aspect has not optimally had a positive impact on increasing community income; 2) the development of tourist villages from the social aspect has not been able to significantly mobilise community participation to be involved in the management of tourist villages; 3) the development of tourist villages from the environmental aspect, has not been able to optimally carry out planting rare trees and fruit-tourism in the yard and still low awareness of maintaining environmental cleanliness; 4) the development of tourist villages from the aspect of strengthening partnerships, still not able to optimally collaborate with stakeholders for the development of tourist villages. Based on these problems, efforts are needed to develop tourism villages by applying the pentahelix collaboration model as a strategy for the development of kertarahayu tourism village in the future, where these five elements: government, community, business world, universities/academics and social media are united in coordinating and committing to developing kertarahayu tourism village. Pengembangan desa wisata secara berkelanjutan diharapkan mampu memberikan efek domino berupa peningkatan pendapatan, peningkatan kualitas lingkungan hidup, yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakatnya dan tetap memperhatikan aspek sosial budaya. Namun realitasnya desa wisata belum mampu memberikan dampak yang signifikan bagi peningkatan pendapatan masyarakat desanya; belum mampu meningkatkan keterampilan warga desa untuk mengelola objek wisata desanya serta belum mampu meningkatkan partisipasi masyarakat secara optimal. Desa Kertarahayu merupakan salah satu desa binaan PT. Cikarang Listrindo sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan. PT. Cikarang Listrindo Tbk memberikan pendampingan terhadap pengembangan desa wisata Kertarahayu melalui program CSR perusahaan berkolaborasi dengan kelompok sadar wisata (pokdarwis) desa wisata Kertarahayu. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran secara empiris tentang bagaimana PT. Cikarang Listrindo memberikan pendampingan kepada kelompok sadar wisata (pokdarwis) desa kertarahayu untuk melakukan pengembangan desa wisata Kertarahayu dari aspek ekonomi, sosial, lingkungan hidup dan penguatan kemitraan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1)pengembangan desa wisata dari aspek ekonomi belum secara optimal memberikan dampak positif bagi peningkatan pendapatan masyarakat; 2)pengembangan desa wisata dari aspek sosial belum mampu secara signifikan menggerakkan partisipasi masyarakat untuk terlibat dalam pengelolaan desa wisata; 3) pengembangan desa wisata dari aspek lingkungan hidup, belum optimal melaksanakan penanaman pohon langka dan eduwisata buah-buhan di pekarangan rumah serta masih rendahnya kesadaran menjaga kebersihan lingkungan; 4) pengembangan desa wisata dari aspek penguatan kemitraan, masih belum mampu secara optimal berkolaborasi dengan stakeholder untuk pengembangan desa wisata. Berdasarkan permasalahan tersebut diperlukan upaya pengembangan desa wisata dengan menerapkan model kolaborasi pentahelix sebagai strategi pengembangan desa wisata kertarahayu ke depan, dimana lima unsur ini: pemerintah, masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi/akademisi dan media sosial bersatu padu berkoordinasi dan berkomitmen untuk mengembangkan desa wisata kertarahayu.
Copyrights © 2024