Di dalam Ibrani 7:11-17 menjelaskan bahwa Yesus menjadi Imam Besar menurut cara atau peraturan Melksidek. Masalah yang dihadapi adalah adanya kesulitan di dalam memahami frasa “menurut peraturan Melkisedek.” Mengapa keimaman Yesus itu “menurut peraturan Melkisedek,” apakah hal tersebut menunjukkan bahwa Melkisedek menjadi patron atau fondasi bagi Yesus Kristus dalam mendapatkan status atau jabatan Imam? Sehingga, munculnya pemikiran bahwa Melkisidek lebih tinggi dari Yesus, dan juga munculnya pemikiran bahwa Melkisedek adalah Yesus Kristus dalam Perjanjian Lama (Crhistopany). Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan fakta dan makna yang sebenarnya dari frasa “Imam Besar menurut peraturan Melkisedek,” dan siapakah sebenarnya Melkisedek, serta untuk mengetahui tujuan dari penulis Surat Ibrani menjelaskan bahwa Yesus adalah Imam Besar menurut peraturan Melkisedek. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Di dalam metode ini, peneliti mengumpulkan sebanyak-banyaknya teori dan informasi dari bahan kepustakaan menyangkut topik penelitian. Kemudian hasil penelitian ini akan diuraikan secara deskriptif dan sistematis. Penelitian ini menemukan bahwa Melkisedek adalah sebuah definisi, ungkapan idiomatik dan gelar atau sebutan raja. Pengertian dari frasa “menurut peraturan Melkisedek” adalah menjadi seorang imam adalah sama seperti Melkisedek menjadi seorang imam dengan kualifikasi atau syarat yaitu: bukan karena adanya peraturan-peraturan manusia; bukan karena manusia yang menentukan; bukan karena keturunan dari suatu suku; dan ditetapkan oleh Roh Allah Yang Kekal. Dan tujuan penulis Surat Ibrani, di dalam Ibrani 7 adalah ingin mengungkapkan fakta bahwa keimaman telah beralih kepada Yesus Kristus, keimaman Yesus yang Universal dan kekal.
Copyrights © 2023