Sumedang, sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia, terletak di zona subduksi antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia, sehingga rentan terhadap gempa bumi. Pada 31 Desember 2024, gempa berkekuatan M4,8 mengguncang Sumedang dengan episenter 2 km timur laut dari pusat Kota Sumedang dan kedalaman 5 km. Penelitian pasca-gempa oleh BMKG menemukan adanya Sesar Sumedang yang sebelumnya belum terpetakan, sehingga diperlukan prediksi bahaya seismik sebagai upaya mitigasi bencana. Penelitian ini menggunakan metode Horizontal-to-Vertical Spectral Ratio (HVSR) untuk mengkarakterisasi struktur bawah permukaan di zona gempa Sumedang 2023. Data mikrotremor diperoleh dari pencatatan di 60 stasiun yang dioperasikan pada Juli 2024. HVSR adalah metode yang digunakan untuk memperoleh informasi bawah permukaan dari pengukuran stasiun tunggal dengan membandingkan spektrum Fourier dari komponen horizontal dengan komponen vertikalnya. Rasio ini menghasilkan kurva H/V yang merupakan fungsi dari frekuensi. Nilai frekuensi dominan pada kurva HVSR mewakili frekuensi alami daerah tersebut. Indeks Kerentanan Seismik (Kg), yang digunakan untuk menentukan zona lemah tanah, dapat dihitung dari kurva H/V. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, karakteristik daerah di sekitar Zona Sumber Gempa Sumedang 2023 menunjukkan frekuensi dominan yang bervariasi, dengan frekuensi rendah di Barat Laut. Faktor amplifikasi cenderung rendah hingga sedang, namun ada titik tinggi di Barat Laut dan Tenggara. Kerentanan seismik umumnya tinggi hingga sangat tinggi, kecuali anomali rendah di bagian tengah dan timur laut. Berdasarkan nilai Vs30, batuan dasar didominasi oleh lempung lunak, dengan ketebalan sedimen lebih besar di Barat (40-80 m). Kondisi ini menunjukkan risiko seismik yang tinggi di sekitar zona gempa.
Copyrights © 2024