Artikel ini mengkaji hubungan antara dai dan mad’u dalam kegiatan pengajian Unit Pembinaan Anggota Arisan Qolbu di Jorong Bangkaweh, Kabupaten Agam. Penelitian ini berfokus pada penerapan berbagai model komunikasi dakwah, seperti Model Pertukaran Sosial, Model Peranan, dan Model Permainan, serta faktor-faktor yang memengaruhi interaksi dai dengan mad’u. Dengan pendekatan kualitatif, data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas dakwah sangat dipengaruhi oleh pendekatan personal, keteladanan, dan fleksibilitas peran dai dalam berinteraksi dengan mad’u. Mad’u lebih menerima dakwah ketika merasakan manfaat yang lebih besar dibandingkan pengorbanan mereka, sebagaimana dijelaskan dalam Model Pertukaran Sosial. Selain itu, keteladanan dai dalam kehidupan sehari-hari dan kemampuan memainkan peran sesuai kebutuhan situasi turut memperkuat hubungan dakwah. Hambatan seperti perbedaan latar belakang sosial dan ekonomi, serta keterbatasan waktu mad’u, menjadi tantangan yang harus diatasi oleh dai untuk meningkatkan efektivitas dakwah. Penelitian ini memberikan wawasan penting tentang dinamika hubungan dai dan mad’u, serta menawarkan kontribusi praktis bagi lembaga keagamaan dalam mengembangkan strategi dakwah yang lebih efektif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. This study analyzes the relationship between preachers and mad’u in the recitation activities of the Arisan Qolbu Member Development Unit in Jorong Bangkaweh, Agam Regency. The research focuses on the application of communication models, including the Social Exchange Model, Role Model, and Game Model, as well as the factors influencing interactions between preachers and mad’u. Using a qualitative approach, data were collected through observation, interviews, and documentation, and then analyzed descriptively. The findings indicate that the effectiveness of da'wah is influenced by personal engagement, exemplary behavior, and the preacher’s adaptability in responding to the needs of mad’u. The Social Exchange Model highlights that mad’u are more receptive to da'wah when they perceive the benefits to outweigh the associated sacrifices. Furthermore, the preacher’s conduct in daily life and ability to adjust roles based on situational demands strengthen the da'wah relationship. Challenges include social and economic disparities between preachers and mad’u, as well as the limited availability of mad’u for engagement. Addressing these barriers is essential to improving the effectiveness of da'wah. This study provides valuable insights into preacher-mad’u dynamics and offers practical recommendations for developing da'wah strategies that align with contemporary societal needs.
Copyrights © 2024