Perairan Bintan Utara memiliki sebaran ekosistem lamun cukup luas dengan kondisi yang baik, serta jenis komposisi substrat pada lamun juga berbeda-beda, sehingga cocok menjadi habitat bagi bivalvia sebagai tempat mencari makan, berkembang biak, memijah dan berlindung. Hubungan bivalvia dengan lamun memiliki dampak terhadap siklus makanan, mempengaruhi keberadaan dan komposisi bivalvia. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengukur tutupan lamun, identifikasi, dan kepadatan jenis bivalvia yang berasosiasi dalam ekosistem padang lamun di perairan Bintan Utara. Penelitian dilakukan di perairan Bintan Utara pada bulan September hingga Oktober 2022 (Tanjunguban Utara, Pantai Pengudang dan Pantai Bakau Terang). Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian yaitu GPS, transek kuadrat 50x50cm, roll meter, jangka sorong/penggaris, multitester, hand refractometer, pH meter, alat tulis, Kamera dan boots karet. Metode sampling menggunakan 3 transek dengan panjang 100m kearah laut dengan jarak antar transek yaitu 50m, dengan transek 50x50cm dimulai dari titik 0 sampai 100m dengan jarak antar frame kuadrat yaitu 10m. Analisis data yang digunakan dalam penelitian yaitu tutupan lamun, identifikasi bivalvia dan kepadatan bivalvia. Terdapat 7 jenis lamun yang ditemukan dari ketiga stasiun penelitian yaitu: Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea serrulata, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, Halodule pinifolia dan Syringodium isoetifolium. Tutupan lamun tertinggi diperoleh di perairan Pantai Pengudang sebesar 48,3% dikategorikan tutupan lamun yang sedang. Ditemukan sebanyak 21 jenis bivalvia yang berada dari ketiga lokasi penelitian. Adapun jenis bivalvia yang banyak ditemukan yaitu Gafrarium pectinatum. Kepadatan bivalvia tertinggi terdapat di perairan Pantai Bakau Terang sebesar 16,24 ind/m2. Jenis bivalvia dengan kepadatan tertinggi yaitu Gafrarium pectinatum sebesar 8,24 ind/m2.
Copyrights © 2024