Latar belakang: Kebisingan di stasiun berasal dari padatnya lalu lintas kereta api yang beroperasi selama 24 jam yang mengganggu lingkungan. Dampak dari kebisingan kereta api terjadinya gangguan fisiologis, salah satunya yaitu hipertensi. Tujuannya ialah melihat hubungan intensitas kebisingan di stasiun dengan hipertensi pada pekerja. Metode: Menggunakan metode observasional analitik dan pendekatan cross sectional metode analisis kuantitatif. Populasi penelitian berjumlah 128 pekerja di Stasiun Semarang Tawang. Pengambilan sampel metode purposive sampling dan menggunakan rumus Lemeshow yang dengan jumlah sampel 100 pekerja. Analisis bivariat dengan uji Chi Square (α<0,05) untuk menguji hubungan variabel. Hasil: Responden rata-rata berusia 41 tahun yang didominansi laki – laki (70%) dan mempunyai masa kerja ≥5 tahun (87%). Hasil pengukuran intensitas kebisingan tertinggi 94 dB(A), terendah 80 dB(A) dan rata – rata 85,5 dB(A) dengan NAB kebisingan 85 dB(A). Hasil tabulasi silang di dapatkan sebanyak 40 responden (40%) mengalami hipertensi. Rata-rata sistolik di dapatkan 127,95 mmHg dan diastolik di dapatkan rata – rata 81,94 mmHg. Hasil uji statistik mendapatkan hubungan yang signifikan antara intensitas kebisingan dengan hipertensi (p=0,001) dan RP=4,104 (95% CI=1,897–8,878) dimana bekerja pada lingkungan bising di atas 85,5 dB(A) berisiki lebih dari 4 kali untuk mengalami hipertensi. Kesimpulan: intensitas kebisingan merupakan faktor risiko kejadian hipertensi bagi pekerja di lingkungan stasiun kereta api.
Copyrights © 2024