Migrasi merupakan bagian dari adaptasi perilaku individu terhadap perubahan lingkungan musiman. Migrasi dapat memberikan keuntungan bagi organisme yang dihadapkan pada perubahan sumber daya yang terbatas secara berkala. Pulau Borneo adalah salah satu tujuan migrasi musim dingin bagi Oriental Honey-buzzard di Indonesia. Dampak antara deforestasi, industrialisasi, dan urbanisasi telah menempatkan Kalimantan pada kondisi kritis. Pulau Borneo telah mengalami fragmentasi habitat yang disebabkan oleh faktor-faktor ini. ARGOS adalah alat pelacakan satelit yang telah digunakan untuk memantau pergerakan dan perilaku Oriental Honey-buzzard sejak tahun 2003. Tiga individu telah diselidiki dalam studi ini untuk menentukan respons terhadap perubahan tutupan lahan yang terjadi di Borneo pada tahun 2003, 2006, dan 2009. Kompleksitas ekologi dan hubungan antara spesies dan lingkungan yang mendukung respons Oriental Honey-buzzard dipaparkan dalam studi ini. Analisis respons menunjukkan bahwa Oriental Honey-buzzard lebih sering ditemui di area berhutan di Borneo daripada di 11 area tutupan lahan lainnya selama tiga tahun 2003, 2006, dan 2009. Durasi waktu yang dihabiskan di area berhutan secara konsisten menunjukkan durasi kehadiran terpanjang, dengan durasi masing-masing sebesar 136,88 jam, 1121,17 jam, dan 1160,53 jam pada tahun 2003, 2006, dan 2009, secara berturut-turut. Durasi kehadiran terpendek terjadi di area mangrove dan rawa pada tahun 2003, 2006, dan 2009.
Copyrights © 2025