Minat generasi muda pada jamu menurun akibat rasanya pahit dan kurangnya pemahaman jamu akan nilai-nilai sejarah, budaya dan gastronomi. Modifikasi jamu dengan perpaduan modern dan tradisional telah diupayakan oleh kafe-kafe untuk mengangkat dan melestarikan jamu, yang belum dieksplorasi secara maksimal di Jakarta Pusat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berdasarkan 5 indikator teori Gastronomic Identity Model, yaitu flavour profiles, etiquettes, recipes, fusion of ingredients or techniques, geographic regions. Hasilnya, modifikasi jamu memenuhi 5 indikator tersebut tanpa menghilangkan identitas aslinya. Flavour profiles jamu adalah rasa pahit, getir, asam, pedas, dan manis. Etiquettes atau tata cara minum jamu di masa modern dapat dinikmati seperti kopi dan wine dengan dihirup aromanya dan minum perlahan. Recipes jamu di masa modern mengalami modifikasi dengan penambahan bahan. Fusion of ingredients or techniques pembuatan jamu telah berinovasi, seperti di Kafe Acaraki dan Kafe Jamu Bukti Mentjos. Geographic regions atau sejarah kemunculan jamu terlihat sejak masa kerajaan Mataram Kuno dan terdapat salah satu relief Candi Borobudur yang menggambarkan kegiatan meracik dan menggunakan jamu. Hasil penelitian ini dapat mendukung pelestarian jamu tradisional dan meningkatkan pemahaman terkait nilai-nilai gastronomi.
Copyrights © 2024