Luapan emosi marah yang tidak terbendung sering kali secara tidak sadar memicu seseorang melontarkan kata-kata kasar, suatu fenomena yang dikenal dengan istilah trash talking. Fenomena ini melibatkan umpatan, sindiran halus, bahkan penggunaan bahasa kasar dan vulgar yang bertujuan untuk memaki, menyindir, atau bahkan sebagai ekspresi retoris untuk menarik perhatian orang lain. Uniknya, gaya komunikasi yang sering dipandang negatif ini justru dianggap normal dan menjadi bagian dari gaya komunikasi dalam berbagai unggahan komunitas virtual bernama Komunitas Marah-Marah yang ada di platform X. Penelitian ini berupaya memahami bagaimana anggota komunitas menyisipkan trash talking ke dalam pesan yang mereka buat dengan memanfaatkan logika tertentu untuk mencapai tujuan komunikasi mereka. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode netnografi serta teori logika pesan dari Barbara O'Keefe. Teori ini menyatakan bahwa individu memiliki tujuan yang spesifik dalam menyusun pesan untuk disampaikan kepada orang lain. Dalam teorinya, O’Keefe mengungkapkan tiga konsep logika yang digunakan seseorang dalam membuat pesan; logika ekspresif, konvensional, dan retoris. Tujuan dari penelitian adalah menganalisis bagaimana tiga jenis logika pesan tersebut digunakan dalam unggahan trash talking yang dibuat oleh anggota komunitas. Hasil penelitian menunjukkan tiga logika utama dalam konstruksi pesan. Pertama, logika ekspresif terlihat pada Unggahan yang bertujuan untuk mengungkapkan emosi, seperti makian, ungkapan kasar, serta elemen visual seperti emotikon dan meme. Kedua, logika konvensional digunakan untuk menyampaikan sindiran dan sarkasme dengan cara yang halus namun tetap merendahkan. Ketiga, logika retoris diwujudkan melalui argumen yang bertujuan memengaruhi pendapat atau pandangan anggota komunitas lainnya.
Copyrights © 2025