Banyak faktor yang dapat menghambat pengentasan kemiskinan mulai dari program-program pengentasan kemiskinan yang masih dipertanyakan keberhasilannya. Faktor lain adalah pelaksana di lapangan atau eksekutor yaitu instansi teknis dari pusat sampai ke instansi terendah (kelurahan) yang masih "rawan" dengan penyelewengan atau penyalahgunaan sehingga program yang dicanangkan tidak menyentuh kepada masyarakat yang memerlukan. Demikian juga budaya dan sikap dari penduduk miskin itu sendiri yang menerima keadaan miskin sebagai suatu takdir yang harus dijalani sehingga tidak ada motivasi dari dalam dirinya untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Salah satu pendekatan alternatif untuk pengentasan kemiskinan adalah pendekatan spasial yang berbasis pada data pemetaan kemiskinan (poverty mapping). Dengan pendekatan ini data tempat tinggal penduduk miskin direpresentasi dengan simbol titik (point feature) dan direlasikan dengan data atribut atau data deskriptif sehingga pengelolaan dan akurasi data menjadi lebih baik. Analisis spasial dilakukan pada wilayah administrasi yang kecil (small area) yaitu wilayah kelurahan/desa untuk mendapatkan profil penduduk miskin pada wilayah tersebut sehingga rekomendasi program kemiskinan dapat diberikan berdasarkan karakteristik pada wilayah yang dianalisis. Hasil pemetaan kemiskinan tersebut direpresentasikan sebagai data spasial dimana setiap daerah digambarkan dalam peta digital yang memiliki informasi tingkat atau prosentase kemiskinan tiap daerah. Fitur data spasial yang digunakan adalah area (polygon) yang menunjukkan rekapitulasi dari data statistik tiap daerah, namun belum mampu untuk menunjukkan lokasi rumah tinggal atau permukiman penduduk miskin. Berdasarkan hal ini dikembangkan suatu sistem yang mampu memberikan dukungan khususnya informasi spasial (pemetaan) bagi pelaksana program pengentasan kemiskinan dalam mengambil keputusan atau spatial decision support systems (SDSS). Fitur data spasial yang digunakan adalah titik (point) yang menunjukkan rumah atau tempat tinggal penduduk miskin dengan demikian sistem ini akan mendukung program pengentasan kemiskinan pada tingkat teknis di lapangan. Dengan fitur titik sebagai representasi tempat tinggal penduduk miskin akan diketahui secara tepat keberadaan penduduk miskin yang menjadi sasaran program, selain itu masyarat baik secara perorangan atau melalui lembaga kemasyarakatan seperti RT/RW akan dapat melakukan pengawasan terhadap upaya-upaya penyimpangan atau manipulasi data penduduk miskin. Penduduk miskin yang belum terdata dapat dimasukkan atau diusulkan oleh RT/RW ke Kepala Kelurahan untuk selanjutnya data dikelola melalui sistem yang telah dikembangkan dalam kegiatan ini.
Copyrights © 2024