Perkembangan zaman dan teknologi yang sedemikian cepat menuntut adanya transformasi pembelajaran dalam dunia sastra. Tentu saja, hal ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi para guru atau dosen untuk mengembangkan berbagai model pembelajaran yang dapat berterima dengan akselarasi teknologi yang ada saat ini. Artinya, semua pihak dituntut harus adaptif dan belajar untuk dapat menyesuaikan diri dengan segala perkembangan yang ada. Dalam konteks sastra, baik sastra lama maupun modern, kini harus siap bertransformasi dalam ranah digital sehingga sastra menjadi sedemikan ramah dan dapat diterima oleh kalangan generasi Z. Konsekuensinya, perlu penyesuaian media, kompetensi pengajar, ketersediaan sarana dan prasarana yang sesuai serta materi ajar yang kompatibel dan relevan dengan zamannya. Adapun metode yang digunakan adalah metode kualitatif yang lebih mengutamakan kualitas data, khususnya metode digitalisasi naskah. Sumber datanya berupa karya sastra baik karya sastra lama maupun karya sastra modern yang siap dialihmediakan menjadi sesuatu yang baru dan dapat dinikmati oleh audien masa kini. Karya sastra tersebut kemudian dibuat ke dalam format digital, baik 2 dimensi maupun 3 dimensi. Dengan demikian, proses alih media tersebut membuka peluang baru bagi para pengkaji naskah untuk lebih kritis dalam mengungkap nilai-nilai baru yang bermanfaat bagi pembejaran sastra. Hasilnya, digitalisasi naskah terbagi menjadi 3 tahap. Digitalisasi tahap 1 hanya berfokus pada proses alih media saja. Digitalisasi tahap 2 berfokus pada pemanfaatan software alih media. Digitalisasi tahap 3 berfokus pemanfaatan isi naskah kepada kepentingan yang luas.
Copyrights © 2024