Latar belakang: Kusta merupakan penyakit infeksi granulomatosa kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Penyakit ini memiliki tingkat penularan yang cukup tinggi. Lebih dari 80% total kasus kusta di dunia terjadi di Indonesia. Kusta dapat menyebabkan disabilitas fisik yang memengaruhi kehidupan sosial serta pekerjaan penderitanya, terlebih dengan masih tingginya stigma terhadap penyakit ini. Diagnosis kusta didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan kulit dan saraf, pemeriksaan slit skin smear, serta pemeriksaan histopatologi. Pemeriksaan serologis saat ini sering digunakan apabila hasil pemeriksaan slit skin smear negatif dan pemeriksaan histopatologi mengalami keterbatasan. Kasus: Seorang laki-laki usia 19 tahun dengan keluhan utama bercak kemerahan di pipi kanan sejak 4 bulan yang lalu. Bercak dirasa tidak gatal, tidak nyeri, dan terasa agak kebas. Sejak 1 bulan yang lalu pasien mengeluh tidak dapat memejamkan mata kanannya dengan sempurna. Dari hasil pemeriksaan dermatologis didapatkan tampak plak eritem soliter berukuran 7,5 x 7,5 x 0,1 cm, berbatas tegas, bagian tepi meninggi, dan bagian tengah mengalami atrofi disertai skuama tipis di atasnya. Pemeriksaan inspeksi tampak kesan wajah kanan dan kiri asimetris. Pemeriksaan BTA negatif dan hasil biopsi mendukung diagnosis kusta tipe tuberkuloid. Pemeriksaan serologi menunjukkan hasil ELISA anti-PGL-1 IgM 903 µ/ml dan IgG 240 µ/ml. Diskusi: Adanya temuan klinis berupa lesi tunggal yang terasa kebas di pipi kanan serta lagoftalmus merupakan tanda kardinal pada kusta. Hasil pemeriksaan slit skin smear negatif serta gambaran histopatologi mendukung diagnosis kusta pausibasiler (PB) tipe tuberkuloid (TT). Diagnosis kusta diperkuat dengan hasil seropositif IgM anti-PGL-1 pada pemeriksaan serologis.
Copyrights © 2024