Latar Belakang: Masalah kesehatan mental semakin menjadi perhatian global, termasuk di Indonesia. Data menunjukkan bahwa prevalensi masalah kesehatan jiwa terus meningkat, dengan dampak signifikan terhadap individu dan masyarakat. Penelitian ini berfokus pada hubungan antara karakteristik sosial dan ekonomi dengan prevalensi masalah kesehatan mental di Indonesia pada tahun 2023.Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional, menganalisis data sekunder dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Sampel terdiri dari 1.000 responden berusia 15 tahun ke atas. Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-Square.Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kelompok umur dan prevalensi masalah kesehatan mental (χ² = 77.85, p = 0,001). Namun, tidak ditemukan hubungan signifikan antara jenis kelamin (χ² = 0.99, p = 0.320), pendidikan (χ² = 2.778, p = 0.751), pekerjaan (χ² = 2.632, p = 0.90), tempat tinggal (χ² = 0.6362, p = 0.425), dan status ekonomi (χ² = 0.3620, p = 0.98).Kesimpulan: Penelitian ini menjelaskan pentingnya mempertimbangkan kelompok umur dalam upaya penanganan masalah kesehatan mental, sementara faktor-faktor sosial dan ekonomi lainnya tidak menunjukkan hubungan signifikan namun tetap berpotensi berkontribusi terhadap pemahaman yang lebih luas mengenai kesehatan mental.
Copyrights © 2024