Penggunaan etefon (2-cloroethylphosponic acid) untuk meningkatkan produksi lateks tanaman karet (Hevea brasiliensis) telah digunakan secara luas. Peningkatan produksi dengan pemberian etefon diperoleh melalui mekanisme aliran lateks yang lebih lama. Penerapan frekuensi aplikasi stimulan etefon harus mempertimbangkan tipologi klon yang diidentifikasi dari parameter fisiologi seperti kadar sukrosa, kadar fosfat anorganik, dan tiol. Pada umumnya klon metabolisme tinggi tidak atau kurang respon terhadap stimulan sedangkan klon metabolisme rendah relatif responsif terhadap stimulan. Klon metabolisme sedang mempunyai respon yang tidak cepat terhadap stimulan. Oleh karena itu tipologi klon merupakan dasar penerapan frekuensi stimulan untuk peningkatan produksi lateks.
Copyrights © 2024