Masalah pengangguran menjadi isu penting dalam menilai kesejahteraan suatu negara, terutama di Indonesia, di mana angkatan kerja terus meningkat seiring pertumbuhan populasi. Meskipun terjadi penurunan angka pengangguran dari 2023 ke 2024, jumlah pengangguran tetap tinggi, dengan Generasi Z (18-24 tahun) menjadi penyumbang utama. Lulusan SMK, SMA, dan perguruan tinggi banyak menghadapi kesulitan dalam memasuki pasar kerja karena ketidakcocokan antara keterampilan yang dimiliki dengan kebutuhan industri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren tinggi pengangguran pada Gen Z di Indonesia dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif, dengan data sekunder yang bersumber dari BPS dan ILO. Pembahasan mengungkapkan bahwa meskipun pemerintah telah meluncurkan program Kartu Prakerja, program tersebut masih menghadapi kendala dalam implementasinya, seperti rendahnya efektivitas pelatihan daring dan ketidaksesuaian insentif dengan pelatihan yang diselesaikan. Berdasarkan teori fungsionalisme struktural Talcott Parsons, peran institusi pendidikan dan kebijakan pemerintah dalam mengadaptasi kebutuhan pasar kerja sangat penting untuk mengurangi pengangguran. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa meskipun terdapat upaya pemerintah untuk mengurangi pengangguran melalui program pelatihan, evaluasi dan perbaikan terhadap pelaksanaannya sangat diperlukan agar lebih efektif dalam mengurangi angka pengangguran di kalangan Gen Z.
Copyrights © 2025