Fenomena Ndadi dalam pertunjukan kesenian Kuda Lumping memiliki peran signifikan dalam masyarakat tradisional Jawa Abangan, yaitu sebagai media pendidikan berbasis nilai. Para sesepuh dan tokoh Agama Jawa memanfaatkannya untuk menyampaikan ajaran moral, etika, dan spiritual kepada anggota masyarakat, baik di dalam maupun di luar komunitas. Namun, fenomena ini sering kali menghadapi dominasi dan hegemoni ideologis dari individu atau kelompok agama formal yang menginterpretasikan Ndadi sesuai dengan perspektif mereka sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna Ndadi dari sudut pandang para pemain, khususnya para sesepuh kesenian Kuda Lumping. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi dan mengacu pada perspektif interaksionisme simbolik George Herbert Mead, peneliti merumuskan pertanyaan penelitian: Bagaimana fenomena Ndadi dalam pertunjukan Kuda Lumping berfungsi sebagai media pendidikan nilai dalam masyarakat tradisional Jawa? Penelitian ini menemukan bahwa Ndadi merupakan media yang sangat bermakna dalam pendidikan berbasis nilai. Dalam memahami makna dan nilai-nilai tersebut, para pelaku sosial perlu memahami konsep kosmologis Agama Jawa, yang memungkinkan mereka untuk mengungkap nilai-nilai seperti keberanian, pengorbanan, kesetiaan, kebersamaan, keselarasan dengan alam dan dunia spiritual, keadilan, serta rasa hormat kepada orang yang lebih tua. Nilai-nilai ini dapat dengan mudah dipahami melalui Ndadi, karena relevan, otentik, menarik, interaktif, menghargai keragaman budaya, membangkitkan emosi dan refleksi, serta kontekstual, dengan memanfaatkan elemen visual dan pendengaran yang menarik. Selain itu, Ndadi juga menunjukkan keterkaitan erat antara ekspresi seni dan spiritualitas lokal yang unik, yang memperkuat identitas budaya komunitas.
Copyrights © 2024