ABSTRAKKehadiran anak-anak di jalan dalam rangka mencari nafkah ataupun mengelandang adalah tragedy khidupan perkotaan. Realitas kehidupan mereka adalah realitas pengucilan sosial (social exclusion) dari proses urbanisasi daya budaya urbanism yang yang tidak adil terhadap sebagian kelompok masyarakat. Kehadiran meraka dijalan sangat berimpitan dengan gejala social exclusion lainnya seperti kemiskinan, pengangguran, pemukiman kumuh, dan keterbelakangan. Anak jalanan tidak tinggal diam mengadapi masalah itu. mereka mengkreasi kehidupan sendiri (sub-culture) dengan berbagai macam bentuk perjuangan bahkan perlawanan terhadap realitas itu. Perjuangan dan perlawanan itu tidak lain adalah perjuangan mempertahankan kelangungan hidup. Cara mereka melakukan aktivitas, menafsirkan, memperebutkan (contesting), dan memanfaatkan jalan, dan cara mereka menciptakan hubungan dan solidaritas di antara mereka, sesungguhnya adalah strategi utama mereka untuk bertahan hidup.
Copyrights © 2013