Penelitian ini mengkaji subordinasi Khawārij dalam wacana sosial keagamaan menggunakan teori strukturasi Pierre Bourdieu, bahwa tindakan sosial terjadi karena adanya hubungan kompleks antara habitus, kapital, dan arena. Melalui perspektif habitus, kelompok Khawārij dianalisis sebagai hasil pergumulan sosial yang membentuk karakter kolektif mereka. Studi ini menegaskan pentingnya memandang keberadaan Khawārij bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai simbol keterbukaan dan keragaman dalam Islam. Tafsir mencerminkan strategi legitimasi ideologi, alat politik, dan upaya mempertahankan identitas sekte di tengah dinamika sosial-keagamaan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-normatif dengan teori Pierre Bourdieu untuk memahami praktik sosial dan kekerasan simbolik dalam konteks subordinasi Khawārij. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa bagaimana tafsir berfungsi sebagai sumber daya (modal) untuk tarik-menarik wacana idelologis dengan kekuasaan politik dominan, sehingga muncul tafsir berperan sebagai strategi legitimasi ideologi, alat politik, dan mempertahankan identitas Khawārij. Mereka terus terpuruk karena antara habitus, kapital, dan arenanya tidak sebanding lurus dengan ideologi mereka.
Copyrights © 2024