Urgensi pengendalian hipertensi sebagai salah satu penyakit tidak menular (Non-Communicable Diseases atau NCDs) yang menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Hipertensi, yang dikenal sebagai The Silent Killer, seringkali tidak disadari keberadaannya hingga menimbulkan komplikasi serius seperti stroke dan penyakit jantung. Saat ini, pengobatan hipertensi umumnya mengandalkan obat sintetis yang dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping berbahaya. Oleh karena itu, inovasi berbasis bahan alami menjadi solusi yang relevan, terutama di Indonesia yang kaya akan sumber daya alam. Salah satu upaya tersebut ialah regulasi penggunaan Microneedle Patch berbahan aktif kapulaga dan daun belimbing wuluh yang dirancang menggunakan teknologi Transdermal Drug Delivery System (TDDS). Teknologi ini memungkinkan penghantaran obat langsung ke dalam sistem sirkulasi tanpa rasa sakit, minim efek samping, dan lebih efisien dibanding metode konvensional. Merujuk dari perspektif administrasi publik, implementasi inovasi ini memerlukan kerangka regulasi yang strategis dan berkelanjutan. Pemerintah perlu merumuskan kebijakan yang mendukung pengembangan produk berbasis riset inovatif termasuk penyediaan insentif untuk Research and Development (R&D), pengaturan standarisasi keamanan, serta kemudahan izin edar. Selain itu, integrasi dalam sistem pelayanan kesehatan nasional membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan institusi kesehatan, industri farmasi, akademisi, dan komunitas. Peran pemerintah sebagai regulator dan fasilitator sangat krusial dalam menjamin aksesibilitas dan keterjangkauan produk, khususnya bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Kata Kunci: Hipertensi, Kapulaga, Daun Belimbing Wuluh, PICREES, Microneedle Patch.
Copyrights © 2024