Aksara Pegon pada dasarnya merupakan pengembangan dari aksara Arab yang disesuaikan penggunaannya dengan sistem fonem bahasa daerah, khususnya Jawa dan Sunda, demikian juga Melayu. Perbedaan sistem fonologi antara bahasa Arab dan bahasa daerah Nusantara menyebabkan adanya penyesuaian-penyesuaian lambang fonem dari lambang aslinya. Penyesuaian itu dapat berupa penambahan dan/atau pengurangan baik huruf maupun tanda bunyi, disesuaikan dengan kebutuhan dan keterbatasan fonem bahasa daerah yang bersangkutan. Tulisan ini membahas aksara Pegon di dalam teks Pengéling-élingé Wong Urip secara eksplanatif dialektis sehingga hubungannya dengan aksara lain dapat diketahui dan dijelaskan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksara PWU merepresentasikan perpaduan antara sistem fonologi bahasa Arab, Sunda, dan Jawa sekaligus dan oleh karenanya bersifat khas.
Copyrights © 2025