Gunung Merapi yang terletak di daerah pemukiman padat penduduk memberikan dampak pada kehidupan masyarakat, sehingga penting untuk dilakukan penelitian dan karakterisasi yang dapat membantu dalam mitigasi bencana. Penelitian pada erupsi gunung api cenderung terfokus kepada erupsi magmatik, sedangkan penelitian mengenai produk erupsi freatik dan freatomagmatik belum banyak dilakukan. Gunung Merapi memiliki siklus erupsi rata-rata setiap 4 tahun dengan tipe erupsi freatik, freatomagmatik, dan magmatik yang saling bergantian. Erupsi magmatik terakhir terjadi pada tahun 2010 dan diikuti oleh erupsi freatik tahun 2012-2014. Pada tahun 2018, Merapi kembali mengalami erupsi freatik pada tanggal 11 Mei 2018 dan diikuti dengan erupsi freatomagmatik pada tanggal 1 Juni 2018 (Santoso, et al., 2018). Untuk memahami karakteristik kedua erupsi tahun 2018 tersebut, peneliti melakukan studi mineralogi dan geokimia pada produk abu vulkanik. Berdasarkan data analisis mineralogi, sampel abu erupsi Gunung Merapi tanggal 11 Mei dan 1 Juni 2018 mengandung plagioklas, piroksen, dan litik, namun skoria hanya ditemukan pada sampel abu 1 Juni 2018. Kelimpahan mineral plagioklas pada produk 1 Juni 2018 lebih besar (53%) dibandingkan dengan produk 11 Mei 2018 (45%), sedangkan kelimpahan mineral piroksen antara kedua sampel tersebut tidak berbeda secara signifikan. Tingkat kesegaran litik sampel abu 11 Mei 2018 lebih rendah daripada produk 1 Juni 2018. Berdasarkan data analisis geokimia, komposisi berat SiO2 pada produk 11 Mei 2018 mengalami penurunan terhadap produk 1 Juni 2018. Berdasarkan diagram Harker, kedua produk event menunjukkan kecenderungan peningkatan Na2O dan K2O, sedangkan penurunan pada MgO, CaO, TiO2, dan Fe2O3. MnO dan Al2O3 tidak menunjukkan korelasi sistematis dengan konsentrasi SiO2.
Copyrights © 2020