This paper discusses the Keummian of Prophet Muhammad is often interpreted by scholars of tafsir as illiterate (unable to read and write), but it’s different from Nöldeke who views that the illiterate (keummian) of the Prophet Muhammad as not understanding the previous books and because of that Nöldeke also concluded that the Prophet Muhammad is a plagiarist. This paper aims to explain Nöldeke’s statement about illiteracy and plagiarism, as well as it’s relevance to interpretation in the Qur’an. This research is based on Nöldeke’s book entitled geschchte des qoran using intertextual critical discourse analisys. The result of the study show that the plagiarism and illiteracy accoused of the Prophet Muhammad by Theodore Nöldeke, are not without data. But throught a very long analysis based on the scientific method. For that, it’s very irrelavant if we blame his opinion only based on faith. Because something scientific must be discussed with thw scientific as well. So thet in this study using critical discourse analysis of intertextuality, we get a conclusion that the Qur’an has an attachment to the previous book which is considered a hypogram which will inevitably be related to each other so that the work that comes at the will bring about similarities, contradictions, or refinements from the previous book. Abstrak Tulisan ini membahas tentang Keummian Nabi Muhammad sering kali ditafsirkan oleh ulama tafsir dengan buta huruf (tidak bisa membaca dan menulis), namun berbeda dengan Nöldeke yang memandang bahwa buta huruf (keummian) Nabi Muhammad sebagai tidak paham terhadap kitab kitab terdahulu dan karena itulah Nöldeke juga menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang plagiator. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan pernyataan Nöldeke tentang Buta Huruf dan Plagiator, serta relevansinya terhadap penafsiran dalam al-Qur’an. Penelitian ini bersumber dari buku Nöldeke yang berjudul geschchte des qoran menggunakan Analisis Wacana Kritis Intertekstualitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa plagiator dan buta huruf yang dituduhkan kepada Nabi Muhammad oleh Theodoere Noldeke, bukan tanpa data. Melainkan melalui analisis yang sangat panjang berdasarkan metode ilmiah. Untuk itu, sangat tidak relevan apabila kita menyalahkan pendapat beliau hanya berdasarkan keimanan. Karena sesuatu yang ilmiah harus di bahas dengan yang ilmiah juga. Sehingga dalam penelitian ini menggunakan analisis wacana kritis intertekstualitas mendapatkan satu kesimpulan bahwa al-Qur’an memiliki keterikatan dengan kitab sebelumnya yang dianggap sebagai hipogram secara keniscayaan akan saling berkaitan sehingga menjadikan karya yang datang di akhir akan mendatangkan sifat baik kesamaan, bertentangan, atau penyempurnaan dari kitab sebelumnya.
Copyrights © 2022