Dalam tradisi kesarjanaan Islam, sayangnya, khazanah yang sangat luas dari konsep Ahli Kitab tidak mendapat perhatian yang cukup serius sebagai pijakan kaum Muslimin untuk membangun hubungan antar agama yang inklusif. Sebagaimana istilah-istilah lain dalam tradisi Islam, seperti al-dīn, ummah dan lainnya, istilah Ahli Kitab biasanya dipahami dan difungsikan sebagai kriteria penilai bagi hubungan agama-agama itu. Fungsi ini secara apologetis bisa bermuara pada dua sikap yang saling melengkapi. Pertama, istilah Ahli Kitab digunakan untuk menjustifikasi bahwa dalam Islam hubungan agama-agama telah diintrodusir walau dengan catatan-catatan yang carut-marut. Kedua, dengan istilah itu pula karena gambaran-gambaran kritis yang disajikan al-Qur’an tentang Ahli Kitab menjadi pembenar dan pengesah bagi kaum Muslimin untuk mengambil jarak teologis kepada mereka. Penitikberatan istilah Ahli Kitab sebagaimana di atas merupakan cermin dari keberagamaan yang bersikap normatif-idealistik yang mengukur tingkat keberagamaan dari aspek-aspek formal ajaran agama saja, sehingga semangat dari istilah itu kurang mendapat perhatian serius. Buku yang ditulis oleh Muhammad Ghalib M ini mungkin bisa dimasukkan dalam kategori itu.
Copyrights © 1999