Konsep jodoh yang tersebar dalam al-Qur’an dijelaskan dengan ragam kata yang berbeda. Terkadang al-Qur’an menggunakan kata khalaqa, namun terkadang menggunakan kata ja’ala. Dalam ayat yang mengandung keduanya, kata khalaqa didahulukan sementara kata ja’ala mengikuti di belakangnya. Mengapa al-Qur’an menggunakan dua kata tersebut secara bergantian dan/atau berurutan? Bagaimana penggunaan dua kata tersebut menjelaskan konsep jodoh dalam Al-Qur’an?. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka dengan pendekatan hermeneutika Paul Ricouer dengan menerapkan tiga proses interpretasi (semantic, reflektif dan eksistensial). Pada tahap pertama di level semantic, kedua kata ini memiliki perbedaan penekanan. Bila kata khalaqa menekankan pada aspek kekuasaan Allah, kata ja’ala lebih menekankan aspek manfaat yang di peroleh dari ciptaan Allah. Pada tahap reflektif tentang penciptaan jodoh, kata khalaqa dan ja’ala tidak disematkan pada gender tertentu sehingga tidak menunjukkan superioritas gender tertentu. Pada tahap yang terakhir yakni eksistensial, dapat dipahami bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai nilai yang sama. Alquran menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan sebagai jodoh diciptakan untuk saling berkasih sayang, menjadi kawan atau partner satu sama lain.
Copyrights © 2022